Jakarta – Rentetan peristiwa memilukan yang melibatkan oknum anggota Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dalam beberapa waktu terakhir memicu kritik keras dari berbagai elemen masyarakat. Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Solidaritas Melanesia (PSM), Abdullah Kelrey, angkat bicara menanggapi degradasi moral dan profesionalisme yang dinilai kian mengkhawatirkan di tubuh Korps Bhayangkara.
Kelrey menyoroti sejumlah kasus menonjol, mulai dari dugaan penyalahgunaan narkoba oleh mantan Kapolres Bima Kota, tragedi kekerasan di Tual, Maluku, hingga kasus kekerasan senior terhadap junior di Makassar yang berujung maut.
“Polisi Harus Menjadi Pelindung, Bukan Predator”
Dalam keterangan persnya, Abdullah Kelrey menegaskan bahwa institusi Polri sedang tidak baik-baik saja. Ia menilai slogan “Presisi” yang diusung Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo diuji habis-habisan oleh ulah oknumnya sendiri.
“Kami di Partai Solidaritas Melanesia melihat ada pola kekerasan dan pelanggaran hukum yang dilakukan secara sistemik oleh oknum. Bagaimana mungkin seorang Kapolres di Bima Kota yang seharusnya memberantas narkoba malah terseret di dalamnya? Ini adalah pengkhianatan terhadap institusi dan rakyat,” ujar Kelrey dengan nada tegas.
Soroti Tragedi di Tual dan Makassar
Lebih lanjut, Kelrey memberikan perhatian khusus pada kasus kekerasan yang terjadi di wilayah Indonesia Timur. Menurutnya, insiden di Tual, Maluku, yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa akibat tindakan represif atau kelalaian oknum aparat, menunjukkan lemahnya kontrol komando di lapangan.
“Kejadian di Tual adalah luka bagi warga Melanesia. Nyawa manusia seolah tidak berharga di tangan mereka yang memegang senjata atas nama negara. Kami menuntut transparansi penuh dan pengadilan yang adil bagi para pelaku, tanpa ada yang ditutup-tutupi,” tambahnya.
Tak berhenti di situ, kasus kekerasan senior terhadap junior di Makassar yang mengakibatkan seorang anggota polisi meninggal dunia juga menjadi catatan merah. Kelrey menilai budaya kekerasan dalam internal kepolisian harus diputus hingga ke akarnya.
“Kekerasan senioritas di Makassar itu bukti bahwa pendidikan dan mentalitas di internal Polri masih terjebak pada cara-cara barbar. Jika sesama rekan sejawat saja bisa saling membunuh, bagaimana mereka bisa melindungi warga sipil dengan humanis?” cecar Kelrey.
Desak Kapolri Lakukan “Pembersihan” Total
Menutup pernyataannya, Partai Solidaritas Melanesia mendesak Kapolri untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem rekrutmen, pengawasan, dan pemberian sanksi di tubuh Polri.
“Kami mendukung penuh langkah tegas Kapolri, namun aksi nyata jauh lebih penting daripada sekadar kata-kata. Jangan ada lagi pembiaran. Jika Polri ingin dipercaya rakyat, bersihkan institusi dari oknum-oknum predator dan pelanggar hukum. Negara tidak boleh kalah oleh perilaku menyimpang aparatnya sendiri,” pungkas Abdullah Kelrey.
