
Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (SEMA PTKIN) menyampaikan dukungan terhadap kepemimpinan Kapolri yang dinilai tetap bekerja secara progresif di tengah derasnya tuntutan reformasi institusi Polri. Dukungan tersebut juga sejalan dengan apresiasi yang disampaikan oleh Presiden Prabowo Subianto atas berbagai inisiatif strategis yang telah dilakukan, termasuk pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai bagian dari kontribusi Polri dalam mendukung program kesejahteraan masyarakat.
Menurut SEMA PTKIN, langkah Kapolri dalam menginisiasi pembangunan SPPG menunjukkan bahwa Polri tidak hanya berfokus pada aspek keamanan dan penegakan hukum, tetapi juga hadir dalam kerja-kerja kemanusiaan yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat. Program tersebut dinilai sebagai bentuk konkret transformasi Polri yang semakin adaptif, responsif, dan berorientasi pada pelayanan publik yang lebih luas.
SEMA PTKIN juga memandang apresiasi Presiden sebagai bentuk penguatan moral bagi institusi Polri yang saat ini tengah menjalani proses reformasi secara bertahap. Dalam situasi yang diwarnai berbagai kritik, dukungan dari kepala negara menjadi penting untuk menjaga stabilitas kinerja dan memastikan agenda pembenahan tetap berjalan sesuai dengan tujuan besar reformasi.
Lebih lanjut, SEMA PTKIN menyoroti maraknya serangan yang bersifat personal terhadap Kapolri di ruang publik. Kritik yang disampaikan secara konstruktif tentu merupakan bagian dari mekanisme demokrasi, namun ketika kritik tersebut bergeser menjadi serangan personal yang mengabaikan capaian dan kerja nyata, hal itu dinilai tidak mencerminkan etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
SEMA PTKIN menegaskan bahwa proses reformasi Polri harus dilihat sebagai kerja institusional yang membutuhkan dukungan bersama, bukan semata-mata dibebankan pada figur Kapolri. Menurut mereka, keberhasilan reformasi sangat bergantung pada sinergi antara pimpinan, anggota, pemerintah, dan masyarakat. Karena itu, menjaga ruang publik tetap objektif dan proporsional menjadi hal yang sangat penting.
Dukungan emosional yang ditunjukkan Presiden kepada Kapolri juga dinilai sebagai bentuk kepemimpinan yang humanis. SEMA PTKIN memandang bahwa dukungan tersebut tidak hanya mencerminkan hubungan kerja yang solid antara pemerintah dan institusi Polri, tetapi juga menjadi pesan bahwa setiap proses perubahan membutuhkan kepercayaan dan keteguhan dalam menghadapi berbagai tantangan.
SEMA PTKIN berharap agar seluruh elemen masyarakat dapat memberikan ruang yang adil bagi Polri untuk terus berbenah. Kritik yang disampaikan seharusnya diarahkan untuk memperkuat agenda reformasi, bukan untuk menjatuhkan secara personal. Dengan demikian, transformasi Polri menuju institusi yang profesional, modern, dan terpercaya dapat berjalan lebih optimal.
Sebagai representasi mahasiswa PTKIN di seluruh Indonesia, SEMA PTKIN menyatakan komitmennya untuk terus mengawal proses reformasi Polri secara konstruktif. Dukungan terhadap kepemimpinan Kapolri bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan, melainkan sebagai bentuk dorongan moral agar berbagai program pembenahan, termasuk yang menyentuh aspek sosial kemasyarakatan, dapat terus dilanjutkan demi terwujudnya Polri yang semakin dekat dan dicintai rakyat.
