
Lembaga pemantau percakapan media sosial Drone Emprit menyoroti maraknya hoaks dan disinformasi yang beredar di ruang digital dan dinilai memiliki kecenderungan sistematis dalam membentuk persepsi negatif terhadap institusi Kepolisian Negara Republik Indonesia. Fenomena ini muncul bersamaan dengan bergulirnya momentum reformasi Polri yang seharusnya menjadi ruang bagi diskursus publik yang sehat, berbasis data, dan konstruktif.
Berdasarkan pemantauan terhadap percakapan di berbagai platform, Drone Emprit melihat adanya pola amplifikasi isu yang tidak wajar. Sejumlah konten dengan narasi serupa diproduksi dan disebarkan secara masif dalam waktu yang hampir bersamaan, sehingga membentuk gelombang opini yang terkesan organik, padahal memiliki indikasi koordinasi. Pola ini memperlihatkan bagaimana ruang digital dapat dimanfaatkan untuk menggiring persepsi publik secara terstruktur.
Drone Emprit menilai bahwa kritik terhadap institusi Polri merupakan bagian yang sah dalam kehidupan demokrasi. Namun, ketika kritik tersebut dipenuhi dengan informasi yang tidak terverifikasi, manipulasi data, hingga penggunaan potongan peristiwa di luar konteks, maka yang terjadi bukan lagi kontrol sosial, melainkan upaya pembentukan stigma yang dapat merusak kepercayaan publik.
Lebih jauh, analisis terhadap sebaran percakapan menunjukkan dominasi sentimen negatif yang didorong oleh akun-akun tertentu yang berperan sebagai amplifier. Kehadiran akun anonim, bot, maupun jaringan yang bekerja secara serempak dalam menaikkan isu tertentu memperkuat dugaan adanya orkestrasi dalam penyebaran narasi. Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi ekosistem informasi yang sehat.
Momentum reformasi Polri, menurut Drone Emprit, seharusnya dimanfaatkan untuk memperkuat partisipasi publik dalam memberikan masukan yang objektif dan solutif. Namun, banjir disinformasi justru berpotensi mengaburkan substansi reformasi yang tengah dilakukan, serta mengalihkan perhatian publik dari isu-isu strategis yang membutuhkan pengawalan bersama.
Drone Emprit juga mengingatkan bahwa penyebaran hoaks secara masif tidak hanya berdampak pada citra kelembagaan, tetapi juga dapat memicu polarisasi di tengah masyarakat. Ketika informasi yang beredar tidak lagi berbasis fakta, maka ruang dialog akan dipenuhi oleh prasangka dan emosi, yang pada akhirnya merugikan proses demokrasi itu sendiri.
Karena itu, Drone Emprit mendorong penguatan literasi digital serta peningkatan kesadaran publik untuk lebih kritis dalam menerima dan menyebarkan informasi. Ruang digital harus dijaga sebagai medium pertukaran gagasan yang sehat dan transparan, sehingga momentum reformasi Polri dapat berjalan dengan dukungan publik yang rasional, objektif, dan berorientasi pada perbaikan institusi ke depan.
